Usai Upacara Hari Lahir Pancasila, Guru SMPN 3 Kramatwatu Menimba Inspirasi Sejarah di Keraton Kaibon
Serang, 1 Juni 2026 – Usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tingkat Kabupaten Serang Tahun 2026 yang berlangsung khidmat di Alun-Alun Kramatwatu, sejumlah dewan guru dan Kepala Tata Usaha SMPN 3 Kramatwatu secara spontan dan insidental melanjutkan kegiatan dengan melakukan wisata sejarah ke situs Keraton Kaibon yang terletak di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Kegiatan tersebut dibersamai oleh Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, Ketua MKKS SMP Kabupaten Serang, Wahid Hasyim, serta Kegtua MKPS, Sriyono. Kunjungan ini menjadi bagian dari refleksi kebangsaan setelah mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila, sekaligus momentum untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah dan budaya yang dimiliki Banten.
Di tengah hamparan reruntuhan bangunan kuno yang masih berdiri kokoh, para peserta menyusuri setiap sudut kawasan Keraton Kaibon sambil berdiskusi ringan mengenai perjalanan sejarah Kesultanan Banten dan nilai-nilai yang dapat dipetik untuk kehidupan masa kini. Suasana tersebut menghadirkan kesadaran bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber pembelajaran yang relevan dalam membangun karakter dan jati diri bangsa.
Kunjungan ke Keraton Kaibon ini tidak semata-mata menjadi sarana melepas lelah setelah mengikuti rangkaian upacara yang berlangsung sejak pagi hari ataupun sekadar mengabadikan momen melalui swafoto di situs bersejarah. Lebih dari itu, kegiatan ini dimaknai sebagai ruang belajar kontekstual bagi para pendidik untuk memperkuat literasi sejarah, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya, serta merefleksikan nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, dan kebangsaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat Pancasila.
Di sela-sela penelusuran kawasan situs, salah seorang guru yang turut dalam rombongan tampak mengamati sisa-sisa bangunan keraton dengan penuh kekaguman. Sambil memperhatikan ketebalan dinding dan struktur bangunan yang masih berdiri kokoh meski telah berusia lebih dari dua abad, ia berujar, “Luar biasa ya, bangunannya sudah sangat lama tetapi sebagian strukturnya masih tampak kuat dan kokoh. Padahal pada masa itu teknologi konstruksi modern dan penggunaan besi seperti sekarang belum dikenal luas.” Ungkapan tersebut kemudian memantik diskusi ringan mengenai kecerdasan arsitektur dan teknik bangunan para leluhur yang mampu menghasilkan konstruksi berdaya tahan tinggi hingga tetap dapat disaksikan oleh generasi masa kini.
Suasana edukatif semakin terasa ketika rombongan menjumpai sejumlah pelajar SMA yang tergabung dalam komunitas sastra sedang melakukan proses pengambilan gambar untuk sebuah film pendek di kawasan Keraton Kaibon. Dengan memanfaatkan latar situs bersejarah tersebut, para siswa tampak serius memainkan peran sesuai skenario yang mereka susun secara mandiri.

Melihat aktivitas tersebut, Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, sempat menyapa dan berdialog ringan dengan para pelajar.
“Adik-adik sedang apa?” tanyanya.
“Sedang shooting film pendek, Pak,” jawab salah seorang siswa.
“Film sekolah atau komunitas?”
“Komunitas, Pak. Kami dari komunitas sastra beberapa SMA di Kota Serang,” jawab mereka, sambil bersiap melanjutkan proses pengambilan gambar untuk salah satu adegan yang telah disusun dalam skenario film pendek tersebut.
Percakapan singkat tersebut menghadirkan optimisme bahwa situs-situs sejarah tidak hanya menjadi ruang belajar tentang masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi kreativitas generasi muda dalam berkarya melalui sastra, film, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya.
Di sudut lain kawasan Keraton Kaibon, juga menjumpai sejumlah anggota Pramuka Penegak yang tengah mengikuti kegiatan kepramukaan dan ujian kecakapan yang didampingi para pembinanya. Kehadiran para anggota Pramuka tersebut semakin menguatkan fungsi Keraton Kaibon sebagai ruang pembelajaran terbuka yang mampu mempertemukan sejarah, pendidikan karakter, dan aktivitas kepemudaan dalam satu tempat yang sama.
Rasa ingin tahu terhadap sejarah Keraton Kaibon juga mendorong rombongan yang diwakili kepala sekolah, mengunjungi pusat informasi yang berada di sekitar area pintu masuk kompleks. Di lokasi tersebut, berbincang dengan petugas yang bertugas menjaga kawasan sekaligus melayani pengunjung. Dari percakapan tersebut diperoleh berbagai informasi mengenai sejarah singkat Keraton Kaibon, proses pemugaran yang pernah dilakukan, hingga perkembangan kawasan Banten Lama sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Endang juga sempat bertanya dengan salah seorang guru mengenai pemanfaatan situs sejarah lokal sebagai sumber belajar peserta didik.
“Ibu pernah membawa anak-anak berkunjung ke sini untuk kegiatan pembelajaran atau outing class?” tanyanya.
Guru tersebut menjawab bahwa hingga saat ini sekolah belum pernah secara khusus melaksanakan kegiatan pembelajaran lapangan di Keraton Kaibon.
Percakapan sederhana tersebut kemudian memunculkan gagasan bahwa kekayaan sejarah yang berada tidak jauh dari lingkungan sekolah sesungguhnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran kontekstual. Melalui kunjungan langsung ke situs-situs sejarah daerah, peserta didik tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga dapat menyaksikan, merasakan, dan memahami jejak peradaban yang pernah tumbuh di tanah Banten.
Menurut berbagai sumber sejarah, termasuk Wikipedia Bahasa Indonesia serta buku Keraton Kaibon: Sejarah, Arsitektur, Fungsi dan Potensi Cagar Budaya Menurut Analisis SWOT karya Eneng Malihatunnajiah dkk. yang dieditori Dr. Muhamad Shoheh, M.A., Keraton Kaibon dibangun sekitar tahun 1815 oleh Sultan Syafiuddin sebagai kediaman bagi ibundanya, Ratu Aisyah. Nama “Kaibon” sendiri berasal dari kata kaibuan yang bermakna tempat tinggal ibu suri atau ibunda sultan.
Keraton ini pernah menjadi bagian penting dari kehidupan Kesultanan Banten sebelum akhirnya dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1832. Meski kini hanya menyisakan sebagian struktur bangunan dan gerbang bersejarah, Keraton Kaibon tetap menjadi salah satu situs cagar budaya penting di Banten serta destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi masyarakat.
Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa Keraton Kaibon memiliki potensi besar sebagai sarana pendidikan sejarah, penelitian, pelestarian budaya, dan pengembangan wisata edukatif. Karena itu, keberadaan situs ini perlu terus dijaga dan dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi generasi muda agar semakin mengenal sejarah dan identitas budayanya.
Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, menyampaikan bahwa kunjungan sejarah seperti ini memiliki nilai yang sangat penting bagi dunia pendidikan.
“Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya dimaknai melalui upacara seremonial semata, tetapi juga perlu diwujudkan melalui upaya mengenali sejarah bangsa dan daerah kita sendiri. Dari situs-situs seperti Keraton Kaibon, kita belajar tentang perjuangan, kepemimpinan, identitas budaya, serta pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujarnya.
Momentum Hari Lahir Pancasila 2026 terasa semakin bermakna ketika semangat kebangsaan dipadukan dengan upaya mengenal dan mencintai warisan sejarah daerah. Keraton Kaibon bukan sekadar reruntuhan bangunan tua, melainkan saksi perjalanan peradaban yang mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, melestarikan budayanya, dan menjadikan nilai-nilai luhur sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui kunjungan tersebut, para pendidik SMPN 3 Kramatwatu berharap semangat pelestarian sejarah dan penguatan karakter kebangsaan dapat terus ditanamkan kepada peserta didik. Sebab, sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, warisan sejarah merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa Indonesia.
Kunjungan sederhana yang dilakukan pada momentum Hari Lahir Pancasila ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat ditemukan di setiap jejak sejarah yang diwariskan para pendahulu untuk generasi penerus bangsa. (edeqi)

