Sekolah Tak Akan Maju Kalau Antar Guru Saling Menjatuhkan
(Belajar dari Kasus SMAN 1 Cimarga)
Oleh: Endang Daruqutni
Kadang, yang menjatuhkan bukan batu dari luar, melainkan serpihan dari dalam rumah sendiri. Begitu pula dengan sekolah. Ia bukan sekadar bangunan tempat belajar, tetapi “rumah besar” yang berdiri di atas kepercayaan, kebersamaan, dan saling menghargai di antara penghuninya — guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan. Bila di antara mereka mulai saling curiga, saling menjatuhkan, atau saling mempermalukan, maka rumah itu perlahan akan retak dari dalam.
Kasus yang mencuat di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, baru-baru ini menjadi cermin getir bagi dunia pendidikan kita. Seorang kepala sekolah dilaporkan ke pihak kepolisian karena tindakan disiplin terhadap siswa yang melanggar aturan sekolah. Dari peristiwa itu, bola salju bergulir: muncul pro dan kontra, dukungan dan penolakan, bahkan suara-suara sumbang yang datang dari rekan seprofesi sendiri.
Alih-alih menjadi ajang introspeksi, sebagian justru memperkeruh suasana dengan saling menyalahkan. Padahal di atas semua perbedaan, guru dan kepala sekolah sesungguhnya terikat oleh satu misi: mendidik anak bangsa dengan kasih, keteladanan, dan tanggung jawab. Bila satu guru tergelincir, yang lain semestinya menuntun, bukan menendang. Bila seorang kepala sekolah menghadapi masalah, para guru seharusnya menopang, bukan mengaduk-aduk luka.
Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., Ketua Umum DPP AKSI, dalam pernyataannya menegaskan pentingnya ikatan batin antara kepala sekolah dan guru.
“Kepala sekolah bila perlu anggap semua guru adalah anak. Guru, anggap kepala sekolah sebagai ibu kandung, terima bentuk cintanya walau kadang menyentil. Mari kuatkan saling cinta, karena cemburu dan emosi hanyalah sisi lain dari cinta yang butuh perhatian,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa konflik di sekolah bukan untuk dijadikan bahan saling menjatuhkan, melainkan ladang untuk menumbuhkan kedewasaan dan kebersamaan.
Kita sering mengajarkan kepada murid arti gotong royong, saling menolong, dan tidak menjelekkan teman. Ironisnya, pelajaran itu justru kerap menguap di ruang guru. Kritik berubah menjadi bisik-bisik, masukan bergeser menjadi serangan, hingga akhirnya sekolah kehilangan ruh kebersamaannya.
Padahal pendidikan tidak akan tumbuh di tanah yang gersang oleh kebencian. Ia hanya bisa subur di lahan yang dipupuk dengan kepercayaan dan ketulusan. Kepala sekolah bukan musuh bagi guru, dan guru bukan pesaing bagi kepala sekolah. Keduanya adalah mitra dalam satu kapal yang sama, berlayar menuju dermaga bernama kemajuan sekolah.
Sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surat Al-Anfal ayat 46:
“Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”
Perselisihan di antara pendidik hanya akan meruntuhkan marwah profesi guru. Rasulullah ﷺ pun mengingatkan,
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh akan merasakan.” (HR. Muslim)
John Dewey, tokoh besar pendidikan modern, pernah mengatakan:
“Education is not preparation for life; education is life itself.”
(Pendidikan bukan persiapan untuk hidup; pendidikan itu sendiri adalah kehidupan.)
Bagaimana mungkin kehidupan itu tumbuh jika suasananya penuh curiga dan saling menjatuhkan?
Nelson Mandela juga berpesan,
“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
(Pendidikan adalah senjata paling kuat untuk mengubah dunia.)
Namun, senjata itu akan tumpul bila dipegang oleh tangan-tangan yang saling berebut arah.
Belajar dari Cimarga, kita diingatkan untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar profesi guru: saling menghormati, menjaga martabat, dan menguatkan satu sama lain. Sebab pada akhirnya, bukan siapa yang paling benar yang membuat sekolah maju, melainkan siapa yang paling ikhlas bekerja sama.
Sekolah akan tumbuh jika guru-gurunya bersatu, tetapi akan hancur jika antar guru saling menjatuhkan. Maka sebelum kita menuding atau menghakimi, mari bertanya pada diri sendiri:
Apakah yang kita lakukan hari ini memperkuat sekolah — atau justru memperlemah fondasinya?
