Menemukan Diri, Menyalakan Kepemimpinan

WhatsApp Image 2025-10-12 at 10.19.31

Refleksi dari Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kepala Sekolah melalui LEAP (Leadership, Entrepreneurship, and Adventure Program)
Oleh: Endang Daruqutni – Wakil Ketua Umum MKKS SMP Kabupaten Serang


“You cannot lead others until you first learn to lead yourself.”
— John C. Maxwell

Kalimat itu menjadi gema yang menuntun pikiran kami sejak awal pelatihan — sederhana, tetapi menghunjam. Sebuah pengingat bahwa kepemimpinan bukan dimulai dari mengatur orang lain, melainkan dari keberanian untuk menata diri sendiri.

Suasana ballroom Hotel ROS In, Yogyakarta, pagi itu terasa begitu khidmat. Sekitar 150 peserta, terdiri dari para kepala sekolah dan unsur pengawas SMP se-Kabupaten Serang, duduk rapi dalam suasana yang hangat namun berwibawa.
Ketika lagu “Indonesia Raya” dan “Padamu Negeri” berkumandang, ruangan itu seolah bergetar oleh semangat dan haru. Ada rasa bangga yang menelusup — bahwa kami hadir bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi sedang menyiapkan diri menjadi pemimpin pendidikan yang lebih bermakna.

Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kepala Sekolah melalui LEAP yang digelar pada 25–27 September 2025 ini diinisiasi oleh MKKS SMP Kabupaten Serang, mengusung tema:

“Membangun Kepala Sekolah Visioner, Adaptif, dan Berkarakter di Era Transformasi Pendidikan.”

Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Husaeni, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kepala sekolah untuk terus berkembang sebagai pemimpin yang mampu menginspirasi perubahan.
Dan dari awal acara, terasa betul bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda formal — melainkan ruang perjumpaan batin antara nilai, semangat, dan visi kepemimpinan.

Memimpin Diri Sebelum Memimpin Orang Lain

Sesi pertama bersama Idrus Putra, life coach sekaligus professional corporate trainer dan penulis buku best seller, langsung menyentuh inti persoalan: kepemimpinan diri.
“Lead yourself first. Go first, jalan saja dulu,” ucapnya dengan tegas dan penuh energi.

Kami diajak menyadari bahwa pikiran, perasaan, dan fisiologi membentuk perilaku dan hasil.
Bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari pengenalan diri — memahami apa yang ada dalam kendali kita, apa yang bisa kita pengaruhi, dan apa yang harus kita lepaskan.
Di sinilah konsep lingkaran kendali menjadi refleksi mendalam: terlalu banyak energi habis untuk hal yang tak bisa kita ubah, padahal kekuatan terbesar ada di dalam diri.

Point penting dari sebuah perubahan adalah kesadaran.
Sering kali kita terjebak dalam rutinitas tanpa benar-benar menyadari akar permasalahan yang ada.
Self-leadership mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya: “Sudahkah saya mampu memimpin diri saya sebelum memimpin orang lain?”
Seorang pemimpin sejati adalah cermin bagi lingkungannya — apa yang ia lakukan akan menjadi teladan bagi tim yang ia pimpin.

Setiap simulasi dan penjelasan seolah membuka cermin baru: pemimpin bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling mampu mengelola diri.


Ketika Jiwa Wirausaha Menyatu dengan Jiwa Pendidik

Pada sesi berikutnya, semangat ruangan kembali menghangat. Idrus Putra membimbing kami menelusuri konsep entrepreneurship dalam konteks pendidikan.
Bahwa menjadi kepala sekolah yang entrepreneurial tidak berarti meninggalkan profesi, melainkan menumbuhkan cara berpikir kreatif, adaptif, dan solutif dalam menghadapi tantangan sekolah.

“Entrepreneur itu bukan profesi, tapi cara berpikir,” ujarnya,
“Melihat masalah sebagai peluang, menciptakan solusi, dan mengeksekusinya agar memberi nilai dan manfaat.”

Contoh-contoh yang ia paparkan terasa begitu dekat dengan keseharian:
guru yang membuka kelas les daring, menulis modul, mengembangkan produk edukatif, hingga menjalin kolaborasi dengan UMKM lokal.
Nilai utamanya bukan pada materi, melainkan pada kemandirian dan kebermanfaatan.

“Jadi entrepreneur bukan berarti keluar dari profesi,” tegasnya lagi,
“Justru memperkaya peran Anda di dalamnya.”


Ketika AI Hadir sebagai Mitra, Bukan Ancaman

Salah satu bagian paling menarik dari pelatihan ini adalah ketika peserta diajak mengenal Artificial Intelligence (AI).
“AI itu bukan pesaing,” kata sang trainer, “tapi mitra berpikir — partner 24 jam yang membantu brainstorming ide, menghemat waktu, dan mempercepat eksekusi.”

Kami belajar membuat prompt efektif dengan rumus R.A.P.I.D (Role, Audience, Purpose, Instruction, Detail) dan menyadari bahwa teknologi hanyalah alat; nilai manusialah yang menuntunnya.
Kuncinya: berpikir kritis, kreatif, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan.


Kepemimpinan yang Tumbuh dari Hati

Di akhir pelatihan, suasana berubah menjadi reflektif.
Banyak peserta mengaku tersentuh dan “merinding” bukan hanya oleh paparan yang inspiratif, tetapi oleh kesadaran baru yang tumbuh: bahwa memimpin itu bukan tentang posisi, melainkan tentang pengaruh yang lahir dari ketulusan.

Kami pulang membawa lebih dari sekadar ilmu. Kami membawa semangat baru — semangat untuk memimpin dengan hati, menggerakkan dengan teladan, dan menyalakan nilai-nilai positif di lingkungan kerja masing-masing.

Pelatihan LEAP ini seakan menjadi cermin: menunjukkan siapa kita hari ini, dan mengajak melangkah menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Karena sesungguhnya, kepemimpinan adalah perjalanan batin yang dimulai dari keberanian untuk mengenali diri, menyalakan nilai, dan menebarkan manfaat.

“Lead yourself. Go first.”
Karena perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil — dari dalam diri sendiri.