Meneladani Kepemimpinan Para Pahlawan: Kepala Sekolah Penentu Arah Bangsa

WhatsApp Image 2025-11-10 at 09.47.57

Oleh Endang Daruqutni, M.Pd.

Kepala sekolah sejatinya adalah penentu arah masa depan bangsa. Apa yang terjadi di sekolah dan di ruang-ruang kelas tidak selalu tampak oleh publik, namun kepala sekolahlah yang benar-benar mengetahui denyut nadi kehidupan pendidikan di dalamnya. Dari tangan kepala sekolah, satuan pendidikan dapat digerakkan menuju cita-cita besar: menyiapkan Generasi Emas 2045.

Berita CNN Indonesia (23 Juni 2025) mengutip pernyataan Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPD) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, yang mengungkapkan masih adanya kekurangan kepemimpinan di sekolah. Total kebutuhan kepala sekolah di Indonesia mencapai 50.971 orang — terdiri atas 13.163 sekolah yang belum memiliki kepala sekolah, 26.909 sekolah yang hanya dipimpin oleh guru pelaksana tugas (Plt), dan 10.899 kepala sekolah akan memasuki masa pensiun tahun ini.

Kondisi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan tanda bahaya bagi arah pendidikan nasional. Sekolah tanpa pemimpin ibarat kapal tanpa nakhoda — berlayar tanpa kendali menuju masa depan yang tak pasti. Dalam jangka panjang, absennya kepemimpinan di satuan pendidikan bisa menurunkan kualitas layanan pendidikan dan melemahkan daya saing bangsa.

Kepemimpinan sebagai Warisan Perjuangan

Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa kemerdekaan tidak akan pernah lahir tanpa keberanian dan keteladanan para pemimpin. Sukarno dan Hatta bukan sekadar memproklamasikan kemerdekaan, tetapi menyalakan api kepemimpinan yang menuntun rakyat menuju cita-cita besar: Indonesia merdeka, berdaulat, dan berkarakter.

Kini, semangat itu perlu dihidupkan kembali di ruang-ruang pendidikan. Sebab, membangun pemimpin berkualitas tinggi sejatinya dimulai dari sekolah — tempat nilai tanggung jawab, integritas, dan semangat kebangsaan ditumbuhkan sejak dini. Kepala sekolah berada di garis terdepan dalam proses itu.

Tantangan Kepemimpinan Sekolah Masa Kini

Kehadiran kepala sekolah sebagai pemimpin di satuan pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata — apalagi dilemahkan kehormatannya. Fenomena belakangan ini memperlihatkan masih banyak kepala sekolah yang menghadapi tekanan eksternal dari berbagai pihak: mulai dari lembaga swadaya masyarakat, media, hingga aksi demonstrasi dan mosi tidak percaya yang datang dari sebagian siswa atau orang tua.

Tekanan semacam ini sering kali tidak proporsional, dan bila tidak disikapi bijak, dapat mengganggu stabilitas kepemimpinan sekolah. Padahal, seorang kepala sekolah kini memikul beban yang kian kompleks dan berat. Mereka harus memainkan banyak peran secara bersamaan: sebagai pengelola lembaga, manajer sumber daya manusia, pemimpin pembelajaran, penggerak transformasi digital, penjaga mutu, fasilitator perubahan sosial, sekaligus pelayan publik.

Kepala sekolah dituntut bukan hanya cakap dalam administrasi dan kebijakan, tetapi juga menjadi figur moral yang mampu menjaga suasana belajar yang sehat dan berkarakter di tengah perubahan sosial yang cepat.

Meneguhkan Jati Diri Kepala Sekolah

Dalam forum pembinaan kepala sekolah jenjang SMP, Kadisdikbud Kabupaten Serang, Drs. Aber Nurhadi, M.Pd., menegaskan pentingnya kepala sekolah memperkuat kembali jati dirinya melalui peran EMASLIM — Edukator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, dan Motivator.

“Peran EMASLIM bukan sekadar teori, melainkan pijakan moral dan profesional bagi setiap kepala sekolah untuk menuntaskan amanahnya secara utuh,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Disdikbud Kabupaten Serang sebelumnya, Dr. Asep Nugrahajaya, M.Pd., juga menekankan pentingnya kepemimpinan digital.

“Kepala sekolah harus memahami bagaimana kepemimpinan digital dapat mendukung transformasi pembelajaran agar anak-anak kita siap menghadapi kehidupan di era Indonesia Emas,” ungkapnya saat memberikan sambutan pada acara Edu Day di Hotel Aston, 25 Februari 2025 lalu.

Kedua pandangan tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah di era ini tidak lagi cukup hanya memimpin secara administratif. Mereka harus mampu mengintegrasikan nilai moral, teknologi, dan kemanusiaan dalam satu napas kepemimpinan yang utuh.

Kesenjangan Kesejahteraan Kepala Sekolah

Namun, di balik tanggung jawab besar itu, persoalan kesejahteraan kepala sekolah masih menjadi ironi. Disparitas kesejahteraan antar daerah terasa nyata. Kepala sekolah di wilayah dengan kemampuan fiskal besar cenderung memiliki tunjangan dan fasilitas yang lebih layak dibandingkan mereka yang bertugas di daerah dengan anggaran terbatas.

Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan pribadi, tetapi juga berpotensi menurunkan motivasi, semangat kerja, dan daya dukung kelembagaan pendidikan. Pada akhirnya, kualitas layanan pendidikan pun menjadi tidak merata.

Pemerintah pusat dan daerah sepatutnya memberi perhatian serius terhadap kebijakan peningkatan serta pemerataan kesejahteraan kepala sekolah. Keadilan kesejahteraan bukan semata soal penghasilan, melainkan bentuk penghargaan terhadap tanggung jawab besar yang mereka emban dalam membentuk masa depan anak bangsa.

Menyalakan Jiwa Kepemimpinan Para Pahlawan

Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa kehadiran pemimpin-pemimpin kuat di setiap satuan pendidikan. Kepala sekolah adalah penggerak utama yang menarasikan visi besar bangsa dalam tindakan nyata di sekolah — sekaligus menerjemahkan visi dan arah kebijakan pemimpin daerah menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global.

Di tangan kepala sekolah, arah moral dan intelektual bangsa ditentukan setiap hari melalui keputusan-keputusan kecil yang dampaknya meluas hingga masa depan negeri. Dan seperti para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih, kepala sekolah pun mengabdikan diri dalam senyap: menyalakan semangat guru, menginspirasi murid, dan memastikan setiap langkah di sekolah menuju satu tujuan — Indonesia yang tidak kehilangan arah, karena dipimpin oleh mereka yang meneladani jiwa kepemimpinan para pahlawan.