Ketika Kepala Sekolah Bersarung: Menyulam Nilai Santri di Sekolah Formal
Pagi itu, Rabu 22 Oktober 2025, udara di Kragilan terasa segar dengan embun yang belum sepenuhnya pergi. Di halaman SMPN 1 Kragilan — sekolah yang berada di ujung timur Kabupaten Serang — satu per satu kendaraan mulai berdatangan. Dari pukul 07.30 – 08.30 WIB, tampak para kepala sekolah keluar dari mobil atau turun dari sepeda motornya sambil merapikan kopiah dan melipat ujung sarungnya. Beberapa tertawa kecil, saling menyalami, dan berkelakar ringan, “Waduh, sudah pantas nih jadi ustaz!” atau “Hati-hati nanti disuruh ceramah, Pak Kyai!”, “Nah, nih penceramahnya sudah datang, ayo kita langsung buka acaranya.” Suasana cair itu seolah menegaskan bahwa pagi itu bukan rapat pembinaan yang biasa. Ada nuansa keakraban yang menenangkan — seolah ruh kesantrian tengah menyelimuti ruang pendidikan. 
Tepat pukul 09.00 WIB, aula besar sekolah itu menjadi saksi bagaimana para kepala SMP se-Kabupaten Serang mengikuti rapat pembinaan bersama unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Tak seperti biasanya, mereka bersarung, berkopiah, dan berbaju koko putih. Sementara para kepala sekolah perempuan tampil anggun dengan gamis putih dan kerudung biru muda. Rapat Pembinaan Kepala Sekolah kali ini terasa begitu istimewa, tepat di momentum Hari Santri Nasional — bukan hanya karena simbol pakaian, tetapi karena maknanya yang mendalam: menghadirkan kembali semangat kesantrian dalam kepemimpinan pendidikan.
Dalam arahannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, Drs. H. Aber Nurhadi, M.Pd., menegaskan bahwa kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi, tetapi figur moral dan intelektual yang memikul tanggung jawab membangun karakter bangsa melalui sekolah. Ia mengingatkan, “Jangan berkata, berapa lama saya bisa bekerja di sini, tetapi apa yang bisa saya perbuat di tempat ini.” Sebuah pesan yang menembus logika birokrasi dan menyentuh sisi pengabdian.
Pesan ini mengandung napas santri yang kuat — sikap ikhlas dalam berkhidmat di mana pun ditempatkan. Dalam tradisi pesantren, keberkahan ilmu dan jabatan lahir dari niat pengabdian, bukan dari lamanya waktu bertugas. Nilai itulah yang kini ditransformasikan ke dalam kepemimpinan sekolah.
Beliau juga menyoroti pentingnya proses pembudayaan di sekolah. “Pembudayaan itu prosesnya tidak bisa instan. Kebudayaan baru akan terbentuk kalau ada keteladanan, pembiasaan, dan kadang juga paksaan yang mendidik,” ujarnya.
Pernyataan itu merefleksikan prinsip riyadhah dalam dunia pesantren — proses panjang melatih diri agar terbentuk watak dan kebiasaan baik. Di sekolah formal, hal ini bermakna bahwa perubahan budaya kerja maupun karakter siswa memerlukan contoh nyata, disiplin moral, dan keteladanan pimpinan.
Karena itu, menurutnya, kepala sekolah memiliki peran sentral dalam menanamkan disiplin, etika, dan nilai-nilai spiritual di lingkungan kerja. Ia bahkan menegaskan, “Pertanyaannya sejauh mana kepala sekolah mendidik gurunya, dan bagaimana mendidik anaknya agar tidak melawan orang tua? Yuk bersama-sama kita ciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik.” Ajaknya dengan semangat.
Kalimat ini seolah menjadi cermin bagi dunia pendidikan formal yang terkadang terlalu sibuk dengan administrasi. Pesan santri yang tersirat ialah: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar memenuhi dokumen kurikulum.
Masih dalam semangat yang sama, ia menekankan bahwa mutu pendidikan tidak hanya diukur dari hasil (output), tetapi dari kualitas proses. “Mutu pendidikan atau outcome akan dicapai dengan baik apabila prosesnya baik. Dan proses yang baik hanya bisa dilakukan oleh guru-guru yang berkualitas,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa guru adalah “kurikulum hidup” — sebab sehebat apapun rancangan kurikulum, jika guru tidak menjalankannya dengan hati dan kompetensi, maka hasilnya tidak akan maksimal.
Nilai kesantrian di sini kembali hadir: ketulusan dan konsistensi dalam menjalani proses. Sebagaimana santri yang tekun menimba ilmu hari demi hari tanpa tergesa melihat hasil, guru pun menjadi teladan dari sebuah perjalanan panjang membentuk karakter dan ilmu muridnya.
Pesan penting lain yang disampaikan adalah tentang panggilan hati dalam profesi. “Jadi guru harus panggilan hati, bukan panggilan sertifikasi. Sama halnya dengan kepala sekolah — karena kepala sekolah juga guru yang mendapat tugas tambahan, maka harus didasari panggilan hati,” ujarnya dengan nada penuh makna.
Ungkapan ini menghidupkan kembali filosofi ikhlas lillahi ta’ala yang menjadi jiwa pesantren. Bahwa profesi pendidik adalah ladang ibadah, bukan sekadar pekerjaan. Dari sinilah lahir integritas dan kehangatan kemanusiaan dalam kepemimpinan.
Selain itu, ia berpesan agar para kepala sekolah menghidupkan kembali gerakan literasi sekolah. “Tolong hidupkan dan semarakkan lagi gerakan literasi sekolah, dimulai dengan pembelajaran sholat, praktik duha bersama, ajarkan sopan santun, dan pelajari adab. Kalau adab dan karakternya sudah terbentuk, insyaallah pengetahuan sesulit apapun akan mudah diterima,” tuturnya. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga menciptakan anak yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer — sehat, baik, benar, pintar, dan cekatan.
Kutipan ini terasa sebagai gema dari nilai pesantren yang menempatkan adab di atas ilmu. Dalam konteks sekolah modern, pembiasaan ibadah, sopan santun, dan kedisiplinan menjadi pintu masuk menuju literasi yang berkarakter.
Ia menutup arahannya dengan ajakan reflektif: “Tugas kita bukan memintarkan anak, tetapi mencerdaskan kehidupannya, sebagaimana amanat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.” Pesan itu mengingatkan seluruh peserta rapat akan hakikat luhur pendidikan nasional: membentuk manusia beriman, berakhlak, dan berdaya.
Kalimat penutup itu menyatukan seluruh pesan sebelumnya: pendidikan adalah jalan panjang menuju kecerdasan yang berakhlak. Dalam semangat Hari Santri, makna itu menemukan wujudnya — antara ilmu, adab, dan pengabdian yang saling menguatkan.
Momen kebersamaan itu menjadi simbol kuat: para kepala sekolah, bersarung dan berkopiah, sedang menenun kembali benang-benang nilai yang kerap terlepas di tengah derasnya arus modernisasi. Sarung, yang biasanya identik dengan mushala dan pesantren, hari ini hadir di ruang rapat birokrasi — mengingatkan bahwa dunia pendidikan pun perlu kembali ke nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan ketulusan dalam memimpin.
Ketika kepala sekolah bersarung, sejatinya mereka sedang mengenakan simbol kepemimpinan yang berpijak pada moral dan spiritualitas. Bahwa memimpin sekolah bukan sekadar soal aturan dan laporan, tetapi tentang menumbuhkan karakter dan menanamkan nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kebijakan. Sebagaimana santri yang belajar dengan hati, para kepala sekolah diharapkan mampu menuntun dengan nurani. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak generasi cerdas, tetapi juga tentang menjaga agar bangsa ini tetap berakhlak, beradab, dan berjiwa santri. (Ndank Dq)
