Dari Finlandia ke Sekolah Kita: Pendidikan yang Dimulai dari Karakter
Catatan Reflektif
Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai akademik yang dicapai peserta didik, melainkan tentang bagaimana manusia dibentuk melalui proses belajar yang bermakna. Inilah pesan utama yang kerap ditekankan Drs. H. Aber Nurhadi, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dalam berbagai forum pembinaan Calon Kepala Sekolah (CKS) maupun kepala sekolah.
Dalam salah satu arahannya, H. Aber mengajak peserta pembinaan untuk belajar dari Finlandia — negara yang sistem pendidikannya sering dijadikan rujukan dunia. Menariknya, Finlandia bukan dikenal karena sistem ujian yang ketat atau beban belajar yang berat, melainkan karena orientasi pendidikannya yang kuat pada pembentukan karakter.
“Di Finlandia, penduduk muslimnya tidak sampai satu persen,” tutur H. Aber. “Tetapi justru orientasi pendidikannya sangat kuat pada karakter. Ketika ditanya mengapa, mereka menjawab sederhana: kalau karakter sudah terbentuk, ilmu-ilmu lain akan mudah dipelajari.”
Pandangan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama. Tanpa karakter, kecerdasan intelektual mudah rapuh. Sebaliknya, dengan karakter yang kokoh, proses belajar akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Untuk memperjelas makna tersebut, H. Aber mengangkat contoh sederhana namun sarat nilai. Di banyak sekolah di Finlandia, pohon mangga atau jambu yang berbuah di halaman sekolah tidak dipetik, tidak dirusak, dan tidak dilempari siswa, meskipun buahnya matang dan menggoda.
“Bukan karena mereka tidak suka buah,” tegasnya. “Tetapi karena mereka tahu itu bukan haknya. Mereka paham bahwa mengambil atau merusaknya berarti melanggar batas kewenangan dan merusak ekosistem.”
Di sinilah pendidikan karakter menemukan bentuk nyatanya — bukan pada apa yang diucapkan, tetapi pada apa yang dilakukan, bahkan ketika tidak ada pengawasan. Anak-anak bertindak berdasarkan kesadaran, bukan paksaan.
Refleksi tersebut sejalan dengan diskusi para ahli pendidikan internasional. Dalam sebuah artikel yang dimuat Gorajuara.com, praktik pendidikan Finlandia menjadi bahan diskusi para pakar pendidikan di Amerika Serikat. Anak-anak Finlandia digambarkan tidak berbeda jauh dengan remaja di negara maju lainnya: aktif di dunia digital, menyukai musik modern, dan hidup dalam budaya global yang terbuka.
Namun yang membedakan adalah disiplin diri dan kesadaran belajar. Tanpa tekanan akademik berlebihan, siswa Finlandia secara konsisten meraih hasil tinggi dalam berbagai asesmen internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA), khususnya pada literasi membaca, matematika, dan sains.
Para ahli menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari orientasi pendidikan yang memanusiakan manusia. Finlandia menempatkan guru sebagai profesi yang sangat terhormat dan selektif. Sebagian besar guru bergelar magister dan dipersiapkan bukan hanya sebagai pengajar materi, tetapi sebagai pembimbing karakter dan pola pikir peserta didik. Kepercayaan tinggi kepada guru inilah yang kemudian menumbuhkan budaya saling percaya antara sekolah dan siswa.
Bagi H. Aber Nurhadi, refleksi dari Finlandia ini bukan untuk ditiru secara mentah. Indonesia memiliki kekayaan nilai, budaya, dan kearifan lokal yang jauh lebih besar, terlebih Banten yang dikenal seribu pesantren — mulai dari religiusitas, gotong royong, hingga adab ketimuran. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam praktik pendidikan sehari-hari, bukan berhenti sebagai jargon atau slogan.
Karena itu, dalam pembinaan kepala sekolah, ia menegaskan peran strategis kepala sekolah sebagai penjaga nilai dan pembentuk budaya sekolah. Kepala sekolah bukan hanya pengelola administrasi dan program, tetapi pemimpin pembelajaran yang menentukan apakah sekolah menjadi ruang tumbuhnya karakter atau sekadar tempat mengejar angka.
“Sekolah itu bukan hanya tempat mengajar, tapi tempat mendidik. Porsi mendidik harus lebih besar daripada sekadar mengajarkan,” tegasnya.
Refleksi ini mengingatkan kita bahwa hasil pendidikan sejati mungkin tidak selalu langsung terlihat dalam laporan statistik. Namun ia akan nyata dalam sikap generasi yang tumbuh: generasi yang jujur, tahu batas, peduli lingkungan, dan bertanggung jawab tanpa harus diawasi.
Sebagaimana ditekankan H. Aber Nurhadi dalam pembinaannya, ketika karakter sudah kokoh, kecerdasan akan mengikuti — dan pendidikan menemukan makna sejatinya. (4dmin_dq)
