Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Hadir Nyata dalam Talkshow: Murid Aktif, Guru Berdaya

WhatsApp Image 2025-11-05 at 20.45.35 (1)

Cikeusal, (05/11/2025)-Kegatan talkshow yang menjadi bagian dari In Service Training ke-2 Program Pembelajaran Mendalam di TPK SMPN 1 Cikeusal, tidak hanya menjadi ruang penyampaian materi, tetapi juga menjadi panggung berbagi praktik baik yang telah dilakukan oleh para guru di kelas masing-masing. Acara ini dipandu oleh dua moderator, yaitu Eva Sopiyah dan Noerdadi, yang mengalirkan diskusi dengan hangat, terstruktur, dan interaktif sehingga memberikan ruang penuh bagi narasumber untuk berbagi pengalaman.

Tiga narasumber dari sekolah yang berbeda memperlihatkan bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana, kontekstual, dan sarat makna.Sudana, S.Pd dari SMPN 1 Pamarayan mengawali paparan dengan menunjukkan bagaimana konsep matematika dapat dibawa lebih dekat kepada murid melalui pembuktian hubungan volume tabung dan kerucut menggunakan benda nyata. Alih-alih meminta murid menghafal rumus, ia mengajak mereka membuktikan sendiri melalui percobaan.

“Ketika murid mampu membuktikan sendiri konsep, rasa percaya dirinya tumbuh. Matematika bukan lagi hafalan, tetapi penemuan,” ungkap Sudana di hadapan peserta.

Pembelajaran yang ia terapkan membuat murid terlibat aktif, berdiskusi, dan berani menarik kesimpulan secara mandiri. Kelas menjadi hidup dan penuh dialog.

Sementara itu, Heryanah, M.Pd dari SMPN 3 Cikeusal menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menggunakan mie instan sebagai objek eksperimen untuk menelaah kandungan nutrisi, bagaimana tubuh memprosesnya, dan dampaknya bagi kesehatan. Ia tidak hanya mengajak murid mengamati dan mencoba, tetapi juga mengarahkan mereka melakukan refleksi atas hasil eksperimen.

“Dengan menyentuh pengalaman murid, pembelajaran berubah dari ‘mendengarkan’ menjadi ‘menemukan’,” jelas Heryanah.

Dampaknya terlihat nyata: kelompok murid yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif, berani bertanya, tertarik mencoba, dan mampu menyimpulkan pemahaman sendiri.Paparan ketiga disampaikan oleh Khaerunisa, S.Pd dari SMPN 2 Jawilan yang memfasilitasi pembelajaran IPS berbasis proyek (Project Based Learning) pada tema Perubahan Iklim. Ia mengajak murid memahami isu lingkungan melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka. Murid diajak belajar tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di perpustakaan, halaman, hingga titik pengelolaan sampah sekolah.

Untuk menumbuhkan nalar kritis, Khaerunisa memberikan pertanyaan pemantik:

 “Berapa banyak karbon yang kita hasilkan dari penggunaan listrik di rumah sendiri?”

Dari sana, murid melakukan observasi dan wawancara ke petugas kebersihan sekolah, kemudian membuat ecobrick sebagai bentuk aksi nyata kontribusi lingkungan. Pada tahap refleksi, beberapa murid menyatakan komitmen:

“Mulai besok saya akan membawa tempat makan sendiri untuk mengurangi sampah plastik.”

Khaerunisa menutup refleksinya:

“Dengan 3M—memahami, mengaplikasi, dan merefleksi—murid bukan hanya tahu konsep, tetapi juga ikut merawat lingkungan.”

Setelah paparan ketiga narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Tidak hanya guru, kepala sekolah, dan pengawas, namun murid peserta yang hadir juga turut memberikan perntanyaan dan tanggapan, menceritakan pengalaman perubahan yang mereka rasakan di kelas masing-masing. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar teori, tetapi benar-benar memberi dampak pada cara murid belajar dan memaknai pengetahuan.

Selain itu, kegiatan juga dilengkapi dengan penyajian stand hasil praktik baik guru, yang memamerkan karya, alat ajar, produk pembelajaran, dan dokumentasi proses pembelajaran di kelas. Ruang aula berubah menjadi galeri kecil yang merefleksikan kreativitas, keberanian mencoba, dan tumbuhnya budaya belajar kolaboratif di sekolah.

Kegiatan ini menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sesuatu yang jauh atau sulit, tetapi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana: memberi kesempatan murid mengalami, merasakan, dan membangun pemahamannya sendiri.Pada akhirnya, peserta sepakat bahwa murid bukan sekadar penerima materi, tetapi aktor utama dalam proses belajar—dan gurulah yang menjadi fasilitator yang memastikan ruang tumbuh itu tersedia. (Edeqi)